Arsip untuk April 2008

Badan Pendidikan dan Pelatihan Energi dan Sumbaer Daya Mineral

April 28, 2008

Bagi yang berminat sekolah di Akademi Migas Cepu ada baiknya mengikuti perkembangan informasi di Website Badan Pendidikan dan Pelatihan Energi dan Sumbaer Daya Mineral di

http://www.diklat.esdm.go.id/

atau website PTK Akamigas

http://www.diklat.esdm.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=66&Itemid=89

Efek Kegagalan Try Out Genjot Latihan Soal

April 28, 2008

SURABAYA-Pelatihan soal-soal Ujian Nasional (Unas) intensif khusus dipilih SMPN 31 untuk memperbaiki hasil try out muridnya yang jeblok pada 10-12 Maret 2008.
Rencananya, pelatihan akan berlangsung selama dua minggu berturut-turut, mulai pertengahan April 2008. Agar murid tidak lelah ketika menjelang Unas 5-8 Mei 2008, pelatihan akan diakhiri beberapa hari sebelumnya.

Angka ketidaklulusan SMPN 31 terbanyak di antara 42 sekolah negeri yang mengikuti try out. Yaitu 19 murid saja yang dinyatakan lulus dari 219 murid yang ikut serta.

“Murid kelas III akan digenjot dengan pelatihan empat mata pelajaran saja yang diujikan pada Unas. Sebab, mata pelajaran reguler sudah selesai,” kata Kepala Sekolah SMPN 31 Surabaya Drs Anwaruddin MSi MPd, Selasa (25/3). Yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.
Sebenarnya, pihak sekolah sudah mengadakan bimbingan belajar (bimbel) sejak Oktober 2007.

“IPA sudah masuk materi bimbel. Kami sudah memperkirakan bahwa IPA akan diujikan,” terang Anwar. Sehingga, seluruh siswa kelas III pun sudah mengetahuinya.

Diakui Anwar, keberhasilan try out SMP yang dipimpinnya memang sering mencapai 10 persen saja. Baik pada try out di SMPN 31 sendiri atau oleh lembaga bimbel swasta.
Meski demikian, dia berharap Dinas Pendidikan Surabaya lebih sering menggelar try out. Kalau bisa, lebih dari dua kali setahun. Supaya murid lebih mengenal tipe-tipe soal.

Menurutnya faktor utama penyebab kegagalan ini karena motivasi belajar yang kurang. Selain kendornya pengawasan orangtua. Apalagi, sebagian besar keluarganya berperekonomian menengah ke bawah. Rata-rata orangtuanya sibuk bekerja sebagai pedagang atau tukang. “Lagipula soal-soal try out kemarin lebih sulit dari yang mereka pelajari,” tutur Anwar.

Berbeda dengan pendapat Kepala Sekolah SMP Mardi Putera Gugus Legowo SPd. Pada try out lalu, tidak ada satu pun muridnya yang dinyatakan lulus. “Soal-soal try out sebenarnya tidak sulit. Beberapa saja yang sama rumus tapi berbeda aplikasi soalnya seperti materi bimbel,” terang Gugus.

Bimbel juga diberikan bagi murid kelas III SMP Mardi Putera. Begitu pula dengan try out bersama lembaga sekolah swasta. Meski, hanya 15-20 persen dari 157 muridnya saja yang berhasil lulus. “Minat belajar anak-anak sangat minim. Pengawasan orangtua di rumah kurang juga, mereka cuek ketika diajak kerjasama dengan sekolah,” tegas Gugus. ida

Pilih Nonton Sinetron

MURID kelas III D SMP Mardi Putera, Tri Suprapti mengaku menyisihkan waktu dua jam sehari selama di rumah untuk latihan soal-soal Unas. Waktu belajar itu pun kadang disambi mengerjakan tugas pelajaran reguler.
“Ya, kalau ada sinetron atau acara televisi kesukaan ya berhenti,” ucap Tri yang ditemui usai bimbel di sekolah, Selasa (25/3). Kadang orangtua tidak menegurnya. Meski mereka tahu bahwa Tri akan menghadapi try out dan Unas.

Mengenai soal yang diujikan pada try out, para siswa mengaku alami kesulitan ketika mengerjakan soal yang menerapkan sebuah rumus. “Nggak hapal sih,” sahut Cynthia Dewi Natalia, teman sekelas Tri.

Empat mata pelajaran yang akan diujikan pada Unas, 5-8 Mei 2008 mendatang, dipelajari juga di sekolah. Cynthia menuturkan bahwa sekolah juga mempersiapkan diri dengan mengadakan bimbel setiap Senin sampai Kamis selama dua jam.

“Kami sudah diberitahu saat kenaikan kelas III bahwa bahasa Indonesia, Matematika, dan bahasa Inggris, pasti akan diujikan pada Unas,” ungkap Tri.
Namun, pihak sekolah masih belum pasti tentang pelajaran IPA. Apakah akan termasuk materi Unas atau tidak. “Baru pada Februari 2008 kami diberitahu, IPA masuk Unas. Persiapan untuk try out ya cuma sebentar,” ungkap Tri. (Surya)

Kelulusan UN

April 28, 2008

MASIH ingat dengan pemberitaan kelulusan sejumlah siswa di Tanan Air dua tahun lalu? Lagi-lagi ujian nasional (UN) menjadi tragedi. Bagaimana tidak? Setelah hasil UN Tahun Pelajaran 2005/2006 diumumkan, sejumlah siswa dilanda depresi. Fakta bahwa mereka tidak lulus membuat mental anjlok.

Seorang siswi shock berat dan harus mengungsi ke rumah saudaranya.
Bahkan ada juga yang bunuh diri karena menganggap dirinya tidak lagi berguna. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan? Guru, sekolah, pemerintah ataukah murid itu sendiri. Sebab, semua itu adalah satu kesatuan yang sangat berhubungan dengan pendidikan anak sekolah.

Dahulu sekitar tujuh atau delapan tahun silam, jarang sekali ada pemberitaan siswa tidak lulus dari ujian meskipun tidak begitu pandai di kelasnya. Namun apa yang terjadi sekarang setelah sistem kurikulum di negeri kita berubah. Abad telah berubah, pola pikir manusia pun turut berubah. Namun apakah dengan demikian semua itu dapat mengubah nasib manusia menjadi baik.

Jika melihat data dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada Tahun Pelajaran 2005/2006, di Jawa Tengah hampir 50 persen bahkan lebih siswa SMA negeri dan swasta masuk dalam kategori tidak lulus UN. Untuk jurusan IPA, 63 persen peserta ujian nasional SMA negeri dan swasta dinyatakan tidak lulus. Sementara jurusan IPS, 50 persen atau separo dari 81.585 peserta ujian dinyatakan tidak lulus. Sementara jurusan bahasa, hanya 31 persen yang dinyatakan lulus.

Pada Tahun Pelajaran 2006/2007, angka ketidaklulusan siswa tingkat SMA negeri dan swasta di Jawa Tengah masih terhitung tinggi meskipun lebih baik dari tahun sebelumnya. Untuk jurusan IPS, 55 persen peserta dinyatakan tidak lulus ujian. Jurusan bahasa, 56 persen siswa tidak lulus. Lain lagi dengan jurusan IPS yang angka ketidaklulusannya jauh lebih kecil dibanding tahun sebelumnya, yakni 18,5 persen.

Momok

Melihat fenomena tersebut bukan tidak mungkin hal itu akan menjadi momok bagi peserta didik yang tahun ini juga mengikuti UN. Apalagi, standar kelulusan bagi siswa SMA berbeda dari tahun sebelumnya. Khususnya untuk program IPA dan IPS, mata pelajaran yang diujikan bertambah. Untuk jurusan IPA tambahan itu yakni Fisika, Kimia, dan Biologi. Adapun untuk IPS, mata pelajaran yang ditambahkan dalam ujian yakni Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.

Selain mata pelajaran yang diujikan berbeda dari tahun sebelumnya, standar kelulusan untuk tahun ini pun berbeda. Sesuai dengan aturan, peserta ujian dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan, antara lain memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 atau memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00. Sementara tahun lalu syarat peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan, yakni memiliki nilai rata-rata 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Siswa bisa memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran, tetapi pada mata pelajaran lainnya minimal 6,00.

Mendiknas Bambang Sudibyo dalam beberapa kesempatan mengatakan, standar kelulusan UN akan terus dinaikkan secara bertahap sambil menunggu meratanya mutu pendidikan di seluruh Indonesia. Pada 2009, standar kelulusan akan naik menjadi 6,00. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) UN Tahun 2008 merupakan irisan (interseksi) dari pokok bahasan kurikulum 2008 dan standar Isi.

UN diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang pelaksanaannya bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan satuan pendidikan. Ujian Nasional 2008 yang diperlakukan semacam upacara ritual tahunan sudah terselenggara. Meskipun mendapat reaksi negatif dari sejumlah kalangan, pemerintah kukuh pada pendirian bahwa UN merupakan salah satu instrumen peningkatan kualitas pendidikan. Termasuk alasan pemetaan kualitas pendidikan yang terbukti hingga kini belum memberikan hasil yang signifikan.

Yang pasti, saat ini sebagian besar siswa dan juga orang tua dihantui bayangan ketidaklulusan dalam UN. Tentu ini merupakan hal yang wajar, sebagai seorang siswa, tak seorang pun yang ingin gagal dalam tahapan terakhir. Begitu pula dengan orang tua. Mereka tak ingin perjuangan tiga tahun terakhir ini pupus hanya dalam dua jam di atas meja ujian.

Melihat persyaratan kelulusan UN tahun 2008, jelas merupakan tantangan bagi siswa, guru, sekolah, dan orang tua. Dalam beberapa uji coba UN yang dilakukan di daerah, terlihat bahwa IPA Terpadu merupakan mata pelajaran yang paling susah dilulusi siswa. Tingkat ketidaklulusannya dalam uji coba sangat tinggi.

Melihat gambaran ini, kita mesti waspada terhadap ketidaklulusan UN kali ini. Bukan tidak mungkin angka ketidaklulusan siswa SMA meningkat dibanding tahun lalu. Suatu hal yang tentu kita tidak inginkan. (Suara Merdeka)

Kejar Paket Bisa Masuk PTN

April 28, 2008

SURABAYA – Siswa yang gagal lulus ujian nasional (UN) tak perlu resah. Panitia SNMPTN tetap menerima siswa yang hanya berijazah kejar paket C.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) Prof Haris Supratno menuturkan, panitia SNMPTN tidak keberatan kalau siswa yang hanya mengantongi ijazah kejar paket C ikut seleksi SNMPTN.Siswa tersebut tetap punya kesempatan yang sama untuk berkompetisi memperebutkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) bersama dengan siswa yang lulus UN.

“Ini berbeda dengan pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) tahun-tahun sebelumnya.Kami melihat setiap siswa harus diberi kesempatan yang sama masuk perguruan tinggi negeri sesuai pilihan mereka. Kesempatan itu terbuka lebar,” ujar Haris kemarin. Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu melanjutkan, persyaratan yang dimiliki lulusan kejar paket C tidak jauh beda dengan lulusan UN.Terutama terkait batasan usia peserta SNMPTN.

Keduanya minimal lulusan tiga tahun terakhir. Artinya, yang bisa berpartisipasi dalam SNMPTN harus dari angkatan 2006–2008. Panitia SNMPTN membuka pendaftaran mulai 16–28 Juni 2008. Sedangkan ujian SNMPTN dilaksanakan 2-3 Juli 2008. “Lulusan UN dan kejar paket C sama-sama bisa mengikuti,”sambungnya. Pihaknya menyadari,ketika siswa gagal lulus UN, bukan berarti kapasitas akademiknya lemah.

Alasannya bisa karena faktor kelelahan maupun konsentrasinya terganggu ketika mengerjakan soal UN. Untuk itu, Haris dan rektor PTN lain melihat potensi yang dimiliki siswa lulusan kejar paket C juga besar.“Rugi juga kan kalau siswa yang berpotensi tidak kita wadahi dalam PTN.Mereka juga merasa sulit melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi ketika divonis gagal UN,” jelasnya.

Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya Edi Santoso mengatakan, tahun ini, selain konsentrasi UN Dindik juga getol membidik ujian kejar paket C.Sebab,mulai 2008 wajib belajar (wajar) 12 tahun mulai diterapkan. Dengan demikian,tidak ada lagi istilah siswa putus sekolah gara-gara tidak lulus UN. ”Apalagi kesempatan untuk melanjutkan ke PTN terbuka bagi lulusan kejar paket C.

Otomatis itu bisa menjadi semangat tersendiri bagi siswa yang tidak lulus UN,”ungkapnya. Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jatim Rasiyo menuturkan, penerapan program Wajar 12 tahun harus dimulai serentak di semua kabupaten/kota di Jatim tahun ini.Apalagi masing-masing kepala daerah dan wali kota sudah menjalin nota kesepahaman (MoU) Wajar 12 tahun dengan Dinas P dan K Jatim.“Dana Wajar 12 tahun juga sudah kita berikan.

Jadi, masing-masing daerah bisa memulai penerapan Wajar 12 tahun,”ujar Rasiyo. Pihaknya juga berharap, siswa SD-SMA yang sempat putus sekolah bisa terdata kelurahansetempatuntukdiajak kembali menikmati pendidikan. Urusan biaya,masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sudah memberikan sharingdana.

“Minimal masyarakat kita bisa mendapatkan pendidikan sampai tingkat SMA atau sederajat. Itu bisa dijadikan pegangan hidup untuk bekerja atau meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi,”imbuhnya. Sementara Ketua Dewan Pendidikan Jatim Zainuddin Maliki mengatakan, dibukanya kesempatan siswa lulusan ujian kejar paket C untuk mengikuti SNMPTN menjadi perhatian tersendiri.Minimal itu bisa memicu siswa yang tidak lulus UN agar mau ikut kejar paket C.

Dengan begitu mereka memiliki motivasi untuk mengikutinya agar bisa ikut ujian masuk PTN. Menurut dia,yang perlu diperhatikan adalah tidak semua lulusan kejar paket C berkemampuan minim. Bahkan, bisa jadi mereka lebih kuat dan serius dalam belajar daripada siswa yang lulus UN.

Pengalaman gagal UN jadi motivasi tersendiri bagi siswa kejar paket C untuk tidak mengulangi kegagalannya. “Siswa lulusan UN tidak menjamin kemampuannya bagus.Mereka juga ada yang memiliki kelemahan.Jadi wajar masing-masing peserta UN dan kejar paket C diberikan kesempatan sama mengikuti SNMPTN,” ungkap Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS). (Sindo)

153 Sekolah Overload Siswa

April 28, 2008

SURABAYA  – Sedikitnya 153 sekolah di Kota Surabaya tidak memenuhi standar pendidikan nasional.

Penilaian muncul lantaran jumlah siswa di sekolah tersebut overload. Berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya (Bappeko), rata-rata sebanyak 153 sekolah itu menampung 40 siswa/ kelas. Jumlah ini terlalu berlebihan. Standar maksimal yang disyaratkan pemerintah pusat mencapai 28 siswa/kelas. Kondisi tersebut menyebar di 31 kecamatan di Surabaya.

Jumlah tertinggi di tujuh kecamatan. Masing-masing Kecamatan Genteng 7 sekolah,Simokerto 8 sekolah, Tambaksari 13 sekolah, Semampir 12 sekolah,Wonokromo 9 sekolah,Kenjeran 13 sekolah dan Sukomanunggal sebanyak 7 sekolah. ”Jumlah yang terdeteksi saat ini masih belum pasti. Bisa jadi jumlahnya malah lebih banyak lagi. Karena itu kami akan segera melakukan survei kembali untuk sekolah- sekolah overload itu,’’ terang Kepala Bappeko Kota Surabaya Tri Rhisma Harini kemarin.

Rhisma menjelaskan, sebagai tempat belajar jumlah 40 siswa dalam satu kelas memang tidak memadai.Karena itu perlu kelas tambahan lagi bagi 153 sekolah. Kebutuhan ini yang akan diusulkan kepada DPRD. Rhisma tidak menyebutkan total kebutuhan anggaran. ”Untuk jumlah anggaran masih harus menunggu desain dulu.Terpenting kebutuhan ini harus diprioritaskan.

Kalau bisa, dalam Perubahan APBD 2008 ini anggaran itu tersedia.Tetapi kalau tidak, 2009 harus sudah ada,” ujarnya. Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, M. Alyas membenarkan kondisi tersebut. Politisi Partai Golkar ini menganggap hampir 100% sekolah di Surabaya saat ini overload. Itu sebabnya, kebutuhan gedung baru menjadi sesuatu yang mendesak.

”Silakan saja diajukan anggarannya, DPRD pasti menyetujui. Tentunya, Pemkot harus membuat perencanaan yang bagus,’’tegasnya. Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya, Sahudi tidak mau berkomentar banyak mengenai banyaknya sekolah overload tersebut. Bahkan beberapa kali ditemui, pria ini selalu menghindar. ”Jangan tanya masalah itu dulu,’’tandasnya singkat. (Sindo)

Laporan Kecurangan Nihil

April 28, 2008

Medan – Sampai kemarin Tim Pemantau Independen Sumatera Utara tidak menerima laporan adanya kecurangan. Laporan kecurangan hanya mereka terima terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, setelah pihak kepolisian memergoki para guru membetulkan jawaban siswa.

”Sejauh ini tidak ada laporan kecurangan. Kecuali di Deli Serdang, semua berjalan sesuai dengan prosedur operasi standar. Kami mengetahui kasus yang sudah terjadi,” kata Sekretaris Tim Pemantau Independen (TPI) Sumut Mahdi Ibrahim, Minggu (27/4) di Medan. Laporan itu diterima dari seluruh sukarelawan yang bertugas di semua daerah.

Mahdi mengatakan, mereka tidak mengawasi soal yang sudah masuk dalam amplop sampai ke Kantor Dinas Pendidikan Deli Serdang.

Nihilnya laporan kecurangan ini berbeda dengan laporan Komunitas Air Mata Guru (KAMG). Anggota Dewan Pertimbangan KAMG, Deni Saragih, menilai laporan TPI tidak akurat. KAMG mencatat ada kecurangan di 31 sekolah di 6 kabupaten/kota.

Guru pengawas di Pematang Siantar, Teti Sihombing, diancam pihak sekolah karena menulis ada kecurangan—guru memberi jawaban kepada siswa saat ujian.

Sebelumnya, polisi menetapkan 16 guru dan Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam sebagai tersangka pelaku kecurangan ujian nasional (UN). Mereka kedapatan membetulkan jawaban UN Bahasa Inggris siswa, Rabu (23/4). Sejumlah 284 siswa harus ikut ujian susulan Bahasa Inggris, Selasa besok.

Soal kunci jawaban mata ujian Matematika UN yang beredar pekan lalu, Presiden Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI) Firmansyah Noor mengungkapkan, kunci jawaban itu dipastikan palsu dan kebenarannya hanya 6 soal (17 persen).

Mulai Senin ini digelar ujian susulan sampai 30 April secara nasional. Di seluruh Provinsi DI Yogyakarta, Ketua Penyelenggara UN DIY K Baskara Aji mengungkapkan, 186 siswa SMK dan 106 SMA tak hadir saat ujian nasional pekan lalu dengan alasan sakit, bekerja, menikah, atau tanpa keterangan.

Sementara itu, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid berpendapat, ujian nasional tidak seharusnya menjadi standar tunggal penentu kelulusan siswa. Itu disampaikan di hadapan ratusan warga Kulon Progo, Minggu, di Wates sebagai bagian dari Milad Ke-10 Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut Hidayat, kondisi setiap sekolah di Indonesia berbeda tidak hanya kualitas guru, sarana dan prasarana, tetapi juga kemampuan siswa menyerap materi pelajaran. Karena itu, adalah tidak mungkin bila pemerintah mengharapkan hasil seragam dari sesuatu yang bersifat majemuk. Selain menyusahkan siswa, ujian nasional juga menyusahkan guru karena mereka bertanggung jawab dalam kelulusan siswa.

PTN ragukan hasil UN

Sementara itu, perguruan tinggi negeri (PTN) masih ragu menggunakan hasil UN sebagai salah satu pertimbangan seleksi masuk PTN. Ujian nasional dianggap belum mapan karena setiap tahun standar nilai minimal terus berubah dan terjadi kecurangan yang membuat hasil ujian nasional belum obyektif.

Rektor Institut Teknologi Bandung Djoko Santoso, akhir pekan lalu, mengatakan, guru memilih melatih muridnya menjawab soal ujian nasional sebanyak mungkin sehingga proses pembentukan nalar, logika, dan kreativitas tidak menjadi prioritas. Padahal, hal itu sangat dibutuhkan untuk belajar di perguruan tinggi.

Rektor Universitas Negeri Jakarta Bedjo Sujanto mengatakan, keraguan itu antara lain karena nilai ujian nasional belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan siswa sebab masih banyak kecurangan terjadi. (Kompas)

Antre di Pegadaian demi Kelangsungan Sekolah Anak

April 28, 2008

NELI TRIANA dan M CLARA WRESTI

Puluhan nasabah mengantre mengagunkan barang berharga milik mereka di Pegadaian Pasar Senen, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, Kamis (24/4). Kali ini banyak warga turut antre demi kelangsungan sekolah putra-putri mereka.

Padahal, pegadaian ini biasanya lebih banyak melayani nasabah yang ingin menambah modal usahanya.

Di Pegadaian Kampung Ambon, Jakarta Timur, Ira (40), seorang warga Utan Kayu, Jakarta Timur, menggadaikan beberapa perhiasannya. ”Buat keperluan sekolah,” kata Ira, yang menggadaikan 22 gram perhiasannya.

Dari perhiasan seberat itu, Ira mendapatkan dana segar sebesar Rp 4,7 juta. Uang ini bukan untuk membayar uang masuk sekolah, tetapi untuk membayar uang sekolah bulanan dan juga keperluan sekolah lainnya.

”Suami saya bekerja di luar kota. Bulan ini ia belum mengirimkan uang, terpaksa saya menggadaikan emas saya,” kata Ira memberikan alasan.

Ira mengatakan, ia membutuhkan dana tambahan karena kebutuhan sekolah anak-anaknya juga bertambah. ”Anak saya yang duduk di kelas III SMA harus ujian. Ia harus membayar uang ujian. Lalu, nanti harus menebus buku tahunan. Belum lagi uang pesta perpisahan dan acara-acara lainnya,” kata Ira.

Beban Ira bertambah berat karena anak bungsunya yang duduk di taman kanak-kanak (TK) banyak acara, termasuk untuk perpisahan. ”Anak TK sekarang ada acara wisuda. Lalu, ada studi tur sekalian perpisahan. Jadi, uang ini saya butuhkan untuk membayar kegiatan di luar kebutuhan sekolah rutin,” kata Ira.

Menurut Irianto, Manajer Komunikasi Perusahaan Perum Pegadaian, meningkatnya jumlah nasabah menjelang tahun ajaran baru sudah rutin setiap tahunnya. ”Kenaikannya mencapai 10-20 persen dibanding bulan-bulan biasa. Kucuran dana Pegadaian melonjak Rp 200 miliar-Rp 300 miliar,” kata Irianto.

Ia menambahkan, jumlah dana yang digulirkan untuk para nasabah Pegadaian mencapai Rp 2 triliun per bulan untuk sekitar 16 juta nasabah di seluruh Indonesia. Sebanyak Rp 500 miliar per bulan terserap hanya di DKI Jakarta dengan jumlah nasabah 5 juta-6 juta orang. Pada tahun ajaran baru, kucuran dana untuk DKI mencapai Rp 700 miliar.

Data dari Perusahaan Perum Pegadaian menunjukkan, pinjaman nasabah, baik untuk tambahan modal usaha maupun untuk biaya sekolah, rata-rata antara Rp 1 juta dan Rp 50 juta. Perputaran uang cukup cepat karena sebagian besar nasabah mampu mengembalikan pinjaman dalam waktu satu-tiga bulan saja, termasuk membayar bunga sebesar 0,75-1,3 persen per 15 hari.

”Orang menggadaikan barang, saat ini bukan lagi indikasi kemiskinan. Mereka pinjam uang yang nilainya setara, bahkan lebih murah dari barang berharga yang dimiliki. Makin banyak nasabah pegadaian, itu indikasi perekonomian kawasan di sekitarnya makin meningkat,” kata Irianto.

Hal senada diungkapkan Kepala Pegadaian Cabang Kampung Ambon Pudji Rahayu. Menurut dia, hanya orang yang mempunyai barang berharga yang bisa meminjam di pegadaian. ”Saya pernah mendapatkan nasabah yang meminjam uang karena mendadak beli mobil. Hal seperti ini tidak akan terjadi pada masyarakat ekonomi lemah,” kata Pudji.

Ia mencontohkan, ketika ia bertugas di Pegadaian Cabang Teluk Gong, omzet dana yang dipinjam masyarakat sangat rendah karena pegadaian itu terletak di permukiman nelayan. ”Yang meminjam hanya nelayan yang akan berlayar dan butuh modal untuk membeli bahan bakar dan bekal selama berlayar. Jumlahnya tidak banyak dan emas yang digadaikan juga sebagian emas muda,” tutur Pudji.

Christina Siregar (39), pemilik kios baju bekas di Pasar Senen, mengatakan, ia hampir setiap tiga-enam bulan sekali bertandang ke Pegadaian. Dengan mengagunkan perhiasan emasnya, ia mendapatkan uang tunai untuk menyuntik modal usaha jual beli baju bekas.

”Mei atau Juni nanti juga akan menggadaikan sebagian perhiasan emas untuk membayar bea masuk sekolah anak kedua saya. Rencananya, ia mau masuk SMP negeri di dekat rumah kami di Bekasi Timur, butuh dana sekitar Rp 5 juta. Daripada menggunakan uang modal usaha, lebih baik gadai emas dulu,” kata Christina.

Kenaikan jumlah nasabah menjelang tahun ajaran baru sudah menjadi tradisi di Pegadaian sejak 15-20 tahun lalu. Bahkan, uang yang dikucurkan jauh lebih banyak daripada menjelang Lebaran atau peralihan musim tanam, panen, atau paceklik.

Menurut Irianto, ini mungkin berbanding lurus dengan kesadaran sebagian warga Indonesia akan pentingnya pendidikan. (Kompas)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.