SUDAH jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini cukup menggambarkan nasib 55 sekolah di Surabaya yang gulung tikar.
Upaya untuk membangun pendidikan harus dipendam dalam-dalam. Minat wali murid untuk menyekolahkan anaknya ke 55 sekolah yang sekarang gulung tikar sangat minim. Awal petaka itu dimulai ketika hasil ujian nasional (UN) di puluhan sekolah itu terus terpuruk.Satu demi satu kepercayaan masyarakat hilang.
Alhasil, selama dua tahun terakhir tidak ada wali murid yang berduyun-duyun masuk ke sekolah tersebut. Mungkin masyarakat di Surabaya masih ingat sekolahsekolah yang ada di bawah yayasan Berdikari.Peminat ke sekolah tersebut cukup tinggi. Seiring dengan waktu, pergeseran peminat itu berubah. Ketua II Dewan Pendidikan Surabaya Isa Anshori menuturkan, sekolah yang dulunya jaya tidak bisa mempertahankan layanan pendidikan, terutama peningkatan layanan pendidikan, baik tenaga pengajar maupun fasilitas pendukung.
Kondisi yang menjadi sorotan banyak wali murid tentu saja tentang hasil UN di sekolah tersebut yang terus jeblok.Jadi, kepercayaan warga Surabaya menurun. Hasilnya, kiblat pendidikan kini tidak lagi pada sekolah-sekolah tersebut. ”Itu sudah menjadi hukum alam. Kalau sekolah tidak bisa membuat sinergi,maka mereka akan tersisih,” ujar Isa kemarin.
Selain itu, persaingan sekolah di Surabaya semakin ketat. Kebutuhan sekolah dengan penerimaansiswa tidak imbang. Hasilnya,uangpendidikantidak lagi cukup untuk membayar gaji guru.Jadi,jangan heran kalau di sekolah PGRI banyak yang belum menerima gaji.
”Tiga tahun terakhir ini penerimaan siswa memang menurun. Mungkin karena banyak siswa yang tidak lulus UN. Jadi, wali murid tidak mau mendaftarkan anaknya di sekolah kami,” ujar salah satu guru PGRI. (Sindo)
Juli 10, 2008 -
Ditulis oleh
fajarwisnu |
Penerimaan Siswa Baru |
|
No Comments Yet
Belum ada komentar.