Sekolah Diduga Langgar Aturan MOS

SURABAYA – Pelaksanaan masa orientasi siswa (MOS) di Surabaya perlu dievaluasi.Pasalnya,Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya sebetulnya sudah mengatur muatan serta batas waktu yang wajib dipatuhi selama pelaksanaan MOS.

Kematian Roy Aditya Perkasa, 16, siswa SMAN 16 Surabaya, merupakan indikasi pelanggaran yang dilakukan sekolah terhadap aturan Dindik. Sebab, Dindik membatasi pelaksanaan MOS maksimal sampai pukul 13.00 WIB. Namun, pihak sekolah masih menggelar rangkaian acara sampai malam hari.

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang Humas SMAN 16 Surabaya Tina Rahayu menuturkan,pelaksanaan MOS hari ketiga memang dilaksanakan sampai larut malam. Pihak panitia menambah acara perpisahan dengan membakar api unggun.

”Kegiatan itu digelar untuk menambah keakraban siswa. Kalau hari pertama dan kedua, para siswa baru memang sudah dipulangkan sejak pukul 13.00 WIB,”ujar Tina ditemui di sekolahnya kemarin. Kasi Kurikulum Dindik Surabaya Dakah Wahyudi menuturkan, aturan MOS 2009 sudah disosialisasikan ke tiap sekolah jauh-jauh hari.

Ada aturan wajib yang harus dipenuhi sekolah ketika menjadi panitia pelaksana MOS. ”Semua kegiatan harus dilakukan dengan kelompok. Begitu pula kesertaan guru tiap bidang studi wajib untuk hadir mengawasi pelaksanaan MOS,”ungkapnya.

Keberadaan guru itu, kata Dakah, dilakukan untuk memantau serta mengurangi terjadinya kekerasan atau tindakan yang mengarah pada penganiayaan siswa. Ini dilakukan untuk mencegah muatan MOS yang membuat siswa stres. Kematian Roy tidak lantas membuat pelaksanaan MOS dihapus.

Dindik Surabaya bersikukuh tidak akan menghapus MOS karena dinilai penting bagi siswa baru. Sejak kematian Roy, Rabu (15/7) lalu, banyak pihak menilai siswa baru tidak perlu mengikuti MOS saat awal tahun pelajaran. Termasuk beberapa keluarga Roy yang menduga kematian siswa SMAN 16 Surabaya ini akibat mengikuti MOS.

Siswa berusia 16 tahun ini meninggal dunia tidak lama setelah pingsan di sekolah. Kepala Dindik Surabaya Sahudi menyesalkan kematian Roy. Namun, pihaknya tidak akan menghentikan pelaksanaan MOS. Alasannya, MOS dibutuhkan siswa baru sebagai sarana pengenalan terhadap lingkungan baru tempat mereka menimba ilmu selanjutnya.

Selain itu, MOS diperlukan untuk menyamakan visi siswa baru yang punya karakter beragam dan berasal dari sekolah berbeda. ”Yang harus diubah hanya paradigmanya,” kata Sahudi. Terkait insiden kematian Roy, Sahudi mengatakan bahwa pelaksanaan MOS di SMAN 16 sudah sesuai instruksi yang diberikan Dindik melalui surat edaran sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Dari jadwal dan kegiatan yang disusun, semua sudah sesuai prosedur tetap, termasuk hal-hal lain seperti pengisian biodata. Selain itu, kata Sahudi,ke-giatan MOS yang dilakukan di SMAN 16 juga sudah sesuai standar untuk anak-anak SMA kelas 1. Bahkan dalam pelaksanaannya juga disesuaikan dengan kondisi anak.

Seperti mengumpulkan kayu bakar yang dilakukan per kelompok atau per gugus. Siswa yang sakit juga diizinkan untuk tidak mengikuti MOS. ”Semua sesuai prosedur tetap yang sudah ada,”kata Sahudi. Mengenai waktu pelaksanaan, lanjut Sahudi,SMAN 16 juga membatasi jam kegiatan yang berakhir pada pukul 13.00 WIB.

Khusus hari terakhir,kegiatan di SMAN 16 memang direncanakan berlangsung hingga pukul 19.00 WIB.Namun,kegiatan MOS sendiri sudah berakhir pada pukul 13.00 WIB.”Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan atraksi yang tidak ada hubungannya dengan MOS,”kata Sahudi.

Untuk kasus Roy, secara tidak langsung Sahudi tetap berkesimpulan bahwa kematiannya tidak berkaitan dengan pelaksanaan MOS. ”Roy pingsan dalam posisi sedang menyaksikan atraksi. Sayangnya, nyawa Roy tidak tertolong,” kata Sahudi.

Kasus Roy Harus Diselidiki

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofiq Munawar mendesak agar pelaksanaan MOS bagi siswa baru dievaluasi agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. ”Harus dilakukan evaluasi,jangan sampai ada korban saat dilakukan masa pengenalan sekolah.Ini peringatan keras bagi dunia pendidikan di Jatim,”kata Rofiq.

Politikus PKS ini mengatakan MOS pada dasarnya melakukan pengenalan terhadap siswa baru. Diharapkan siswa bisa melakukan pengakraban dan sosialisasi di lingkungan sekolah yang baru. ”Yang perlu diketahui improvisasi di lapangan yang dilakukan pelaksanaan MOS jangan membuat ketakutan pada siswa baru.

Jangan ada perbuatan yang berpotensi ketakutan dan menakutkan,” terang dia. Menurut dia,munculnya pelaksanaan MOS di luar kontrol tersebut, bakal membuat kualitas berbeda karena ada beban psikologis luar biasa bagi siswa. ”Hendaknya menghadirkan orangtua sehingga tahu kondisi siswa,”pintanya.

Terkait kasus meninggalnya Roy Aditya Perkasa seusai melakukan kegiatan MOS, Rofiq menyerahkannya kepada aparat penegak hukum.Apakah memang ada pelanggaran hukum atau tidak. ”Serahkan pada aparat keamanan dan harus dijernihkan. Jangan sampai ada kegiatan yang menakutkan dan memalukan,”terangnya.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo berharap agar MOS diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat. ”Misalnya melakukan penanaman pohon,” katanya. Meski demikian, Soekarwo menyatakan tidak bisa melakukan intervensi. MOS merupakan otoritas lembaga pendidikan . (SINDO)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: