Konsentrasi Siswa Bisa Terpecah

SURABAYA – Pelaksanaan career center bagi siswa SMA untuk menerima keahlian SMK tak semudah membalikkan telapak tangan.Pelaksanaan itu diyakini sekolah bisa merusak konsentrasi siswa dalam proses menempuh pendidikan.

Kepala SMAN 4 Surabaya Sudarmadji menuturkan, pelaksanaan career centersebenarnya sudah pernah dilakukan di era 1990.Waktu itu SMA negeri memberikan pilihan konsentrasi siswa sebelum menyelesaikan pendidikan tingkat atas. Untuk pilihan pertama yang disajikan dalam sektor A terdiri atas pilihan spesifikasi IPA dan IPS.Kemudian pada pilihan sektor B ada pilihan keahlian yang diarahkan untuk bekerja.

”Tapi waktu itu pilihan B tidak ada peminat.Akhirnya pihak sekolah menetapkan kalau pilihan B ditiadakan saja,” ujar Sudarmadji kemarin. Baru tahun ini ada lagi program yang dibungkus dalam kemasan career center. Pihaknya sendiri menyambut baik pelaksanaan program yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran di Surabaya tersebut.

Cuma, katanya, kalau pelaksanaan teknis program itu berjalan maka beban yang diterima siswa berlebih.Sebab,para siswa SMA tetap diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan studi di sekolah asal.Apalagi ada tuntutan untuk lulus dan mendapatkan ijazah SMA. Sementara di pihak lain dia juga mencurahkan waktu untuk mengikuti kursus yang berisi kompetensi SMK. Selain itu,durasi waktu yang diberikan pada siswa untuk menekuni keahlian SMK dirasa kurang.

Alasannya, waktu sepanjang tiga bulan belum bisa mengubah siswa untuk bisa memahami secara menyeluruh keahlian yang diinginkan. ”Jadi,waktu yang diberikan belum cukup untuk memberikan suntikan kemampuan pada siswa.Apalagi program keahlian harusnya bisa dilakukan dalam hitungan tahun, bukan bulan saja,”imbuh mantan Kepala SMAN 15 Surabaya itu. Ketertarikan terhadap program career center sebenarnya disambut baik sekolah maupun siswa.

Bahkan,para siswa SMA sendiri siap untuk menambah kemampuan melakui program yang rencananya mulai diberlakukan secara nasional pada Desember mendatang. Susanto, salah satu siswa SMA di Surabaya, mengaku tertarik dengan konsep career center di Surabaya. Dirinya saat ini memang menekuni pendidikan di bangku SMA,cuma untuk urusan keahlian dia ingin memperdalam teknik otomotif seperti di SMK. ”Sejak dulu saya memang gemar utak-atik mesin sepeda.

Kalau ada kesempatan untuk memperdalam keahlian itu, saya pasti ingin ikut,”sahutnya. Siswa berperawakan tegap itu berharap Dindik maupun sekolah bisa membagi waktu belajar yang sesuai.Secara prinsip dirinya tidak mau pelajaran di sekolah terganggu karena pendalaman keterampilan SMK.”Kalau bisa,jadwalnya dibuat sesuai dengan waktu luang siswa,” sambungnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Moedianto menuturkan, semua SMKN di Surabaya siap menampung siswa SMA yang ingin menekuni keahlian dalam mengikuti program career center. Tenaga pengajar di SMK juga tidak akan mengalami gangguan meskipun membagi waktu antara menjalani tugas mengajar di SMK dan mengisi kursi dalam program career center.

”Tinggal menyesuaikan waktu saja, kami tidak ada masalah membagi keahlian untuk siswa SMA,”imbuh Moedianto yang juga Kepala SMKN 1 Surabaya itu. Selain itu, sarana yang dimiliki SMKN di Surabaya juga mumpuni untuk menampung siswa SMA.Pelaksanaan kursus sendiri tidak harus dilakukan pada jam mengajar, bisa jadi pelaksanaan digelar seusai proses kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Moedianto juga menjelaskan, pilihan siswa SMA untuk menekuni keterampilan SMK memiliki banyak pilihan. Sebab, SMK di Surabaya memiliki puluhan jurusan yang bisa dipilih. ”Jadi tidak sampai tersektor di satu sekolah saja. Bagi yang gemar mesin bisa memilih di SMKN 5,sementara bagi yang ingin pengembangan teknologi informasi bisa ke SMKN 1 Surabaya,” jelasnya. Psikolog anak Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr Mareyke Maritje Amelia Wagey Tairas MBA MA Procoun mengatakan, kemampuan anak memang terbatas dalam memikirkan banyak tanggung jawab.

Tapi kalau untuk memilih keahlian serta pen- didikan yang disukainya, biasanya mereka tidak lelah dan merasa enjoy. Bagi siswa SMA yang menempuh career center tergantung kemauan yang besar dalam mengelola dirinya.Kalau mereka mampu, maka semua kesulitan dan beban berat itu bisa diatasi. ”Tapi kalau mereka tidak terlalu interest, bisa menjadi kendala,”imbuhnya.

Kemampuan anak berbeda antara satu dan yang lain.Ada siswa yang suka untuk menekuni bidang keahlian, tapi ada juga yang tidak terlalu suka. Jadi, tergantung faktor pendorong dalam dirinya ketika mengambil pilihan mengikuti career center.

”Dalam dua konsentrasi belajar itu,ada satu yang nantinya lebih dominan, apakah pendidikan di SMA atau keahlian SMK yang diperolehnya melalui kursus,” sambungnya. (SINDO)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: