Penggabungan S-1/S-2 Dikaji

JAKARTA – Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menilai usulan penggabungan program sarjana dan pascasarjana di perguruan tinggi masih perlu pengkajian lebih dalam.

Direktur Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Illah Sailah mengatakan, saat ini perlu pengkajian lebih lanjut soal visi negara Indonesia.Apakah orientasinya kewirausahaan dan industri atau negara riset. “Kalau orientasi kita saat ini kewirausahaan, tentu tidak perlu memiliki banyak mahasiswa S-2.

Program penggabungan itu menjadi sia-sia. Makanya perlu pengkajian mendalam,” terangnya ketika dihubungi harian Seputar Indonesia(SI) kemarin. IIlah mengatakan, usulan ini juga harus sesuai dengan misi yang ditanamkan perguruan tinggi yang bersangkutan.“Saya pikir,terobosan apa pun yang diusulkan berbagai pihak tetap harus ada naskah ilmiahnya,”katanya. Sebelumnya diberitakan, Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Soemantri mengusulkan ke depannya program sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2) digabung menjadi satu.

Dengan penggabungan program ini, mahasiswa baru hanya membutuhkan waktu lima tahun untuk meraih gelar magister. Menurut Gumilar, penyatuan ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, lulusan SMU yang lulus ujian masuk perguruan tinggi terdaftar sebagai mahasiswa program magister. Kedua, sebelum masuk ke berbagai program studi spesifik, pada tahun pertama seluruh mahasiswa harus mengambil mata kuliah universitas.

Ketiga, selaku mahasiswa program magister,yang bersangkutan harus mengambil sejumlah SKS (sekitar 160 SKS) sebagai syarat kelulusannya. Ketika sudah menyelesaikan 120 SKS, mahasiswa yang bersangkutan akan diberi pilihan,terus melanjutkan sampai meraih gelar magister atau selesai dengan ijazah sarjana S1. Dengan kemudahan seperti itu, Gumilar mengharapkan,lebih dari separuh mahasiswa akan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister sehingga antara jumlah mahasiswa pascasarjana dengan sarjana dapat mencapai rasio ideal yakni 1 : 2.

Illah mengungkapkan, kajian mendalam soal penggabungan usulan ini mutlak diperlukan karena nantinya akan berdampak pada kebijakan pemerintah yang musti disinkronkan. Selain itu, kata dia, perguruan tinggi juga harus dipersiapkan,terutama dalam hal fasilitas, sarana, dan prasarana, terutama laboratorium untuk membangun budaya penelitian. “Selain fasilitas juga SDM (sumber daya manusia) yang mendukung. Kalau tidak, akan mubazir sekali,”kata Illah.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi X DPR Anwar Arifin. Menurutnya, penggabungan program S-1 dan S-2 masih perlu kajian lebih lanjut. Dalam pendidikan tinggi, harus ada tempat pemberhentian atau terminal bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah atau tidak. “Terminal itu ada di program sarjana S-1. Jadi, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan akademis dan ekonomi untuk melanjutkan pendidikannya ke S-2,” terangnya.

Apalagi, lanjut dia, hal itu juga tergantung pilihan profesi yang akan diambil mahasiswa itu kelak. “Kalau dia mau hanya jadi pegawai, guru atau pedagang, tentu tidak harus mengambil program pascasarjana. Mungkin dengan gelar S-1-nya dia sudah puas,”tutur Anwar. (SINDO)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: