Perguruan Tinggi Dianggap Kurang Pahami Kewajiban Akreditasi

Jakarta – Meski kewajiban akreditasi untuk program studi sudah termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ternyata sebagian perguruan tinggi belum memahaminya.

“Ada info yang berseliweran, bilang akreditasi wajib, akreditasi sukarela, dan ini membingungkan,” ujar Anggota Pleno Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Ana Suhaena Suparno ketika dihubungi Senin (4/1)

Undang-Undang, kata Ana, menyatakan dengan jelas setiap program studi harus terakreditasi. Hingga kini masih ada sekitar 7.000 program yang belum terakreditasi. Padahal pada 2012 nanti hanya program terakreditasi saja yang berhak mengeluarkan ijazah. “Saya tidak tahu apakah 7.000 program studi tersebut memang tidak tahu kewajiban ini atau memang belum siap infrastrukturnya,” urai Ana.

Badan Akreditasi, ia melanjutkan, tiap tahun sudah mensosialisasikan masalah ini ke seluruh kota di Indonesia, bekerja sama dengan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta. “Dampaknya sudah terlihat, di Kalimantan dari 30 persen program yang sudah terakreditasi meningkat menjadi 40 persen tahun ini,” contoh Ana.

Menurut Ana, peningkatan kecil ini cukup menggembirakan. Karena meski program studi wajib mendapat akreditasi, Badan Akreditasi hanya menilai berdasarkan permintaan. “Kalau perguruan tinggi sudah meminta, berarti kan sudah siap,” imbuh dia. Kesiapan ini mulai dari izin operasional hingga jumlah sumber daya manusia yang dimiliki. Badan tidak memungut bayaran untuk proses akreditasi ini.

Sejak 1 April 2009, untuk program strata satu (S-1), Badan Akreditasi telah meningkatkan standar penilaiannya dari 69 komponen menjadi 155 komponen penilaian. “Sifat suatu standar kan semakin lama harus semakin ketat,” jelas Ana.

Dengan tambahan komponen tersebut, diharapkan data akreditasi yang diperoleh dari setiap program studi menjadi lebih valid. “Jadi kalau suatu program dapat akreditasi A, berarti dia sudah mempunyai penelitian sebanyak X, dan mendapat anggaran penelitian per tahunnya sebesar Y,” Ana mencontohkan. (TEMPO Interaktif)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: