Beban Peserta UN Lebih Berat

SURABAYA – Beban peserta ujian nasional (UN) semakin berat. Setelah jadwal UN dimajukan pada 7 April 2009, ujian sekolah juga mengalami perubahan karena diselenggarakan lebih awal.

Akibatnya, sekolah semakin terbebani untuk segera menyelesaikan materi pelajaran dan melatih siswa dengan soal-soal untuk UN. Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Suwanto menuturkan,pedoman teknis UN sudah dibuat dan mulai disosialisasikan pekan ini. Untuk siswa SMA dan SMK,setelah ujian utama UN yang dilanjutkan ujian susulan,sekolah harus segera menyelenggarakan ujian sekolah. ”Ujian sekolah untuk SMA dan SMK dilangsungkan seminggu setelah UN.Jadi,urutannya UN utama,UN susulan,lalu ujian sekolah.

Setelahnya ada pengumuman hasil UN dan ujian ulangan untuk siswa yangtidak lulus,”ujar Suwanto,kemarin. Jadwal ujian sekolah yang berdekatan dengan UN semakin menyulitkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan paling kecil. Umumnya sekolah-sekolah memfokuskan diri untuk melatih siswa mengerjakan soal-soal mata pelajaran yang diuji dalam UN. Di beberapa sekolah juga mulai kelabakan dalam mengatur jadwal, dua bulan pertama semester genap digunakan untuk latihan soal mata pelajaran yang diuji dalam UN.

Adapun materi pelajaran lain yang masih kurang dikejar setelah UN. Kepala SMA Muhammadiyah Sidoarjo Hidayat mengatakan,berbagai perubahan kebijakan ini menyulitkan sekolah. Jadwal yang sudah dirancang jadi harus digeser dan pengembalian tanggung jawab mencetak soal kembali kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan Dindik juga menimbulkan keraguan bila UN bisa diselenggarakan 22 Maret. Materi semester genap,kata Hidayat, sesungguhnya sudah diangsur pada semester ganjil.Namun, masih tersisa sekitar dua bab terakhir dari mata pelajaran yang tidak termasuk UN.Bila diperlukan, tambahnya,bisa ditambahkan jam belajar di luar jadwal yang ada.

Selain itu, Hidayat tidak menampik kemungkinan pengurangan materi ujian sekolah, asalkan lulusan tetap memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan. Semua itu tak lepas dari ketatnya jadwal ujian bagi siswa. Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof Syafiq Mughni mengatakan, UN memang tidak menggunakan prinsip pendidikan yang baik. Siswa dianggap memiliki bakat dan kemampuan yang sama,padahal ada saja siswa yang misalnya lemah di Matematika tetapi berpotensi di bidang lain. Dia mencontohkan dirinya yang selalu mendapatkan nilai di bawah lima untuk matematika.Syafiq kini guru besar dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

”Meskipun menyayangkan aturan mengenai UN dan dalam keterpaksaan, murid-murid sekolah-sekolah Muhammadiyah tetap ikut UN.Padahal, logika UN tidak kena.Pelaksanaannya kacau,tapi hasilnya dianggap serius,”kata Syafiq. Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Dien Syamsuddin menambahkan, kelemahan sistem UN adalah standar kelulusan yang diseragamkan. Semestinya, standar kelulusan di kota besar dan kota kecil tidak sama.

Karena itu, diperlukan modifikasi yang lebih relevan pada UN. Mengenai perguruan tinggi negeri yang mengembalikan kewenangan mencetak soal dan hanya mengirimkan satu pengawas untuk setiap sekolah, Dien mengatakan semestinya perguruan tinggi tetap memiliki otonomi untuk menyeleksi calon mahasiswa sendiri.Standar seleksi perguruan tinggi juga semestinya tidak diseragamkan. (SINDO)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: