Tiga Mata Pelajaran Menjadi Momok

SURABAYA – Tiga mata pelajaran di SMA, yakni Matematika, Fisika, dan Kimia, menjadi momok menakutkan bagi sebagian pelajar. Mereka khawatir tidak lulus ujian nasional akibat jebloknya nilai salah satu dari tiga pelajaran itu. Berbagai cara dilakukan agar lulus UN pada Maret 2010.

Hal itu terungkap seusai uji coba UN yang diadakan Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (ISTTS) bersama sebuah lembaga bimbingan belajar, Sabtu (23/1) di Kampus ISTTS, Surabaya, Jawa Timur. Sekitar 1.350 siswa SMA se-Jatim mengikuti uji coba.

Menurut salah satu peserta, Dyah Wulandari, pelajaran Fisika dan Kimia adalah yang tersulit. Hasil ujian siswi kelas XII SMA At Tarbiyyah Surabaya itu untuk dua mata pelajaran tersebut tidak terlalu bagus. ”Rumit sekali kalau menghafal rumus-rumus Fisika dan Kimia. Belum lagi soalnya bikin bingung mau menggunakan rumus yang mana,” kata Dyah.

Salah satu peserta lain, Sigit Yulianto, mengatakan, Matematika juga masuk tersulit. Siswa SMA 2 Sidoarjo itu lebih suka Bahasa Inggris. Untuk hadapi UN, Dyah dan Sigit ikut pelajaran tambahan di sebuah lembaga bimbingan belajar serta juga belajar kelompok dengan teman.

Masrarah Dwi Yanti, Kepala Humas ISTTS, mengatakan, kunci sukses lulus UN 2010 adalah persiapan yang matang lewat banyak latihan soal dan rileks.

”Walaupun siswa banyak belajar dan berlatih soal, tanpa ketenangan saat UN sesungguhnya, persiapan itu bisa buyar. Semua yang sudah dihafal bisa hilang mendadak. Jadi, selain persiapan, ketenangan adalah salah satu kunci untuk UN,” katanya.

Masrarah juga menambahkan, peran orangtua tidak kalah penting. Hendaknya orangtua tidak membebani anak dengan kewajiban harus lulus. Pendekatan dari hati ke hati dan dukungan moril dinilai sangat membantu siswa menghadapi UN.

Janji membenahi

Sementara itu, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto, di Yogyakarta, menegaskan, pemerintah akan membenahi pelaksanaan UN dari berbagai sisi berdasarkan saran Mahkamah Agung dan masukan masyarakat.

Untuk UN Maret nanti, Suyanto menegaskan, untuk antisipasi mepetnya waktu, pelaksana UN di daerah diperkenankan menunjuk langsung pencetak soal UN. Penunjukan langsung ini diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Terkait kesulitan daerah mencetak soal karena belum ketahuan jumlah peserta UN ulangan, ia menyatakan, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) akan secepatnya melakukan koreksi UN utama pada April.

Ketua Pelaksana UN Provinsi DI Yogyakarta Baskara Aji mengatakan, pihaknya belum mendengar mengenai diperbolehkannya penunjukan langsung dalam percetakan soal UN.

Sementara itu, desakan kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan bagi guru nonpegawai negeri sipil terus menguat. Desakan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pimpinan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Balikpapan, kemarin. ”Kesenjangan guru PNS dan non-PNS, terutama guru wiyata bakti dan guru tidak tetap, makin lebar,” kata Sulistiyo, Ketua Umum PB PGRI.

Pemerintah berkomitmen menggaji guru PNS minimal Rp 2 juta per bulan. Untuk peningkatan kualitas guru, kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan terbuka lebar. Guru non-PNS pendapatannya jauh di bawah upah minimum regional, kepastian status menjadi guru tetap juga sulit didapat(Kompas)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: