Anggaran UN Membengkak

Jakarta – Alokasi anggaran untuk pelaksanaan ujian nasional tahun 2010 membengkak sekitar Rp 30 miliar dari yang diajukan dalam daftar isian proyek anggaran. Anggaran ujian nasional yang awalnya diajukan Rp 562,8 miliar naik menjadi sekitar Rp 593,1 miliar.

Demikian terungkap dalam laporan tertulis Kementerian Pendidikan Nasional dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR, Kamis (27/1) malam.

Meskipun pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2010 kembali mendapat tekanan keras dari fraksi-fraksi di DPR, terutama Fraksi PDI-P dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, yang menolak UN karena tetap dipakai sebagai syarat kelulusan siswa, pada akhirnya UN 2010 disetujui DPR. Anggaran awal senilai Rp 562,8 miliar pun siap dicairkan.

Anggaran UN 2010 sebesar Rp 593,1 miliar dibutuhkan untuk melaksanakan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) jenjang SD, ujian nasional SMP dan SMA sederajat, ujian nasional kesetaraan Paket A, B, dan C tahap 1 dan 2, serta sosialisasi dan koordinasi pusat.

Usul kenaikan anggaran UN akan diajukan dalam APBN perubahan. Meskipun pemerintah merevisi pendanaan UN dengan mengurangi anggaran pelaksanaan UASBN dan UN kesetaraan, dana belum mencukupi. Penambahan anggaran yang cukup tinggi terjadi dalam penyelenggaraan UN SMP dan SMA untuk UN utama dan UN ulangan.

Mengatasi defisit

Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional, menjelaskan, jika tidak dimungkinkan menambah anggaran UN dalam APBN-P, defisit tersebut akan ditanggulangi melalui sejumlah cara. Salah satunya, Kementerian Agama diminta untuk menanggulangi kegiatan-kegiatan terkait UN sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Adapun terkait dengan tuntutan pelaksanaan UN kredibel dan jujur, Mendiknas menegaskan komitmen pemerintah. Untuk mencegah terjadinya kecurangan-kecurangan yang dilaksanakan aparat pemerintah, termasuk kepala sekolah, pengawas, dan guru, Menteri Dalam Negeri diminta untuk menginstruksikan kepada gubernur dan bupati/wali kota untuk menyelenggarakan UN yang jujur dan kredibel.

Selain itu, pemerintah juga telah mengirim surat ke Kepolisian Negara RI dalam rangka rencana menyediakan fasilitas pusat penanggulangan masalah-masalah UN di kepolisian daerah.

Revisi payung hukum

Sementara itu, sejumlah fraksi di Komisi X DPR mendesak supaya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan substansi evaluasi pendidikan, segera dievaluasi karena bertentangan dengan peraturan di atasnya, yaitu Pasal 58, 59, dan 61 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Rully Chairul Azwal, Ketua Panitia Kerja UN DPR, mengatakan, kajian lebih dalam soal perubahan UN 2011, terutama soal formula dan metodologi, akan dibahas lagi oleh DPR.

Secara terpisah, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, seusai diskusi publik tentang UN, mengatakan, penyelenggaraan UN harus dievaluasi.

”Agar masyarakat tidak resah dan terus mempertanyakan efektivitas ujian nasional, proses evaluasi pelaksanaan ujian nasional sebaiknya dipercepat,” ujarnya.

”Tetapi, tetap harus ada ujian. Jangan manja tidak mau ujian. Kita harus bertarung berkompetisi dengan negara lain. Kalau memang UN dianggap melanggar HAM, laporkan saja ke HAM Internasional,” kata Tifatul.

Jika tidak lagi menggunakan UN, harus ada alat ukur alternatif yang lebih valid dan dapat dipercaya. Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional Mansyur Ramly menyatakan, UN merupakan salah satu metode mendorong daya belajar siswa dengan cara menentukan kelulusan.

Namun, pengamat pendidikan, Darmaningtyas, menilai, dengan UN maka siswa justru tidak rajin belajar, tetapi rajin menghafalkan soal yang akan diujikan di UN. Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo juga menilai, semangat belajar siswa saat ini tidak bertujuan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya, tetapi semata-mata latihan soal. (Kompas)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: