Perlu Standardisasi Pendidikan Kejuruan

Jakarta – Banyaknya penganggur di Indonesia, terutama penganggur terdidik, bukan karena tidak adanya lapangan pekerjaan, melainkan lebih karena keterampilan yang dihasilkan oleh institusi pendidikan saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk itu, perlu ada pengembangan kurikulum yang mengikuti perkembangan zaman dan relevan dengan kebutuhan riil dunia kerja dan standardisasi pendidikan kejuruan.

Demikian mengemuka dalam diskusi ”Policy Dialogue-Skills for Employability” yang diselenggarakan British Council, Selasa (9/3) di Jakarta. Standardisasi pendidikan kejuruan ini dinilai kian penting karena seiring dengan perekonomian global dunia membutuhkan tenaga-tenaga baru yang produktif, inovatif, dan memiliki soft skill yang dibutuhkan dunia kerja.

Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rahma Iryanti mengemukakan, standardisasi pendidikan kejuruan itu akan diwujudkan dalam bentuk sertifikasi berisi hasil kompetensi lulusan yang diharapkan akan diakui oleh dunia kerja.

”Ke depan, lulusan SMK, SMA, atau lulusan lembaga pendidikan kejuruan apa pun harus disertifikasi. Kita ingin memperbaiki kebijakan, membuat pusat pelatihan terpadu milik pemerintah, dan menyempurnakan pelatihan yang berbasis kompetensi,” kata Rahma.

Menurut rencana, pusat pelatihan terpadu itu dikerjakan secara bersama-sama oleh minimal 10 lembaga kementerian yang masing-masing memiliki pusat pelatihan.

Untuk memperjelas kebutuhan dunia kerja atau industri, perlu ada peta kompetensi industri yang akan menjadi acuan semua pihak dalam menggarap pendidikan kejuruan. Peta kompetensi ini diharapkan bisa dibuat oleh kalangan industri atau pengguna tenaga kerja, seperti asosiasi industri otomotif atau lainnya.

Persepsi masyarakat

Salah satu tantangan terberat dari pendidikan kejuruan ini sebenarnya justru terletak pada persepsi masyarakat yang cenderung menilai pendidikan kejuruan sebagai ”kelas dua”. Persepsi masyarakat seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain, seperti Inggris.

Asisten CEO dan Direktur Kebijakan di Association of Colleges Inggris Lesley Davies mengemukakan, persepsi yang sama juga beredar di masyarakat Inggris. Oleh karena itu, sampai saat ini pemerintah masih terus menyosialisasi pendidikan kejuruan karena masih banyak orang tua yang lebih memilih jalur akademik. ”Kesadaran pentingnya pendidikan kejuruan itu yang harus ditingkatkan,” kata Lesley. (Kompas)

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: