Biaya RSBI Depok tak Terjangkau Murid Miskin
DEPOK – Mahalnya biaya Dana Sumbangan Pendidikan di Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) di Kota Depok tidak bisa dijangkau semua kalangan.
Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail mendesak agar pemerintah pusat mengembangkan kebijakan dan strategi tertentu agar tak ada celah untuk memperjualbelikan kursi RSBI.
Salah satu kasus menimpa sejumlah orangtua mendaftarkan anaknya di SMAN 1 Depok. Mereka mengaku dimintai biaya sumbangan pendidikan hingga Rp 17 juta.
‘’Anak saya sudah masuk SMAN 1 Depok. Tapi biaya pendidikannya sampai Rp 17 juta. Uang darimana saya. Karena itu akhirnya saya daftarkan anak saya ke SMAN 3 Depok,” kata seorang ibu yang tidak mau disebutkan namanya, Kamis (2/7).
Padahal nilai hasil ujian nasional (SKHUN) sang anak mencapai angka 39 atau rata-rata nilai sembilan. Begitu pula yang dikeluhkan belasan orangtua calon siswa baru lainnya yang akan mendaftarkan anaknya di SMAN 1 Depok.
Ditentukan bersama
Mengetahui hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Etty Suryahati menjelaskan, sebenarnya biaya pendidikan RSBI ditentukan berdasarkan kesepakatan antara orangtua siswa, pihak sekolah, dan Departemen Pendidikan Nasional. Disdik Depok, ujarnya, tidak ikut campur soal biaya RSBI. Begitu pula mengenai standar besaran biaya sumbangan pendidikan.
‘’Kalau ada permasalahan seperti itu kami akan mengomunikasikan ke Disdik Provinsi Jawa Barat,” papar Etty.
Etty menerangkan di Kota Depok terdapat dua SMA rintisan RSBI, yakni SMAN 1 dan SMAN 2. sedangkan di tingkat SMP ada SMPN 2 yang masih berstatus by class (hanya ada satu kelas bilingual).
Selama ini, ujar Etty, ada beberapa kendala pelaksanaan RSBI di Kota Depok yang membuat porsi penerimaan siswa terbatas. Diantaranya karena terbatasnya sekolah yang memenuhi standar kriteria.
Maka, Disdik Kota Depok tengah mendorong dua sekolah SMAN 3 dan SMAN 4 untuk menambah ruang kelasnya menjadi sembilan sehingga memenuhi syarat kelas internasional.
Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail menginginkan adanya sebuah kebijakan pendidikan yang tak diskriminatif. Sebuah kebijakan yang memberi kesempatan bagi anak berprestasi tapi mempunyai tingkat perekonomian rendah untuk mencicipi RSBI. Meskipun ia memahami kelas internasional ini hanya bisa dijangkau kelas sosial menengah atas karena perlu fasilitas lebih. ‘’RSBI perlu standar kualitas dan pembiayaan yang relative bisa dijangkau semua kalangan,” imbuh Nur.
Tes akademik
Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Depok Suharto Sukarjo menerangkan, tak hanya segi kemampuan pembiayaan yang menjadi pertimbangan penerimaan siswa baru RSBI di sekolahnya.
Para calon siswa baru harus menempuh syarat administrasi, tes akademik, psikotes, dan tes wawancara. Porsi terbesar ditentukan tes akademik mata pelajaran IPA dan bahasa Indonesia.
Menurutnya, besar dana sumbangan pendidikan RSBI di tempatnya rata-rata Rp 4,5 juta. Suharto tak memungkiri ada pula orang tua siswa yang bersedia membayar lebih dari besaran tersebut. Tahun ini, ujarnya, RSBI di SMPN 2 memfasilitasi anak berprestasi akademik yang tak mampu untuk masuk (Republika)
SMKN 7 Samarinda Produksi Laptop Sendiri
SAMARINDA – Pihak DPRD Kalimantan Timur menyatakan salut atas kemampuan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Samarinda yang mampu memproduksi (merakit) laptop secara massal, serta mengharapkan agar keahlian mereka terus dikembangkan.
“Kami bangga atas prestasi ini. Tidak semua sekolah kejuruan bahkan sekolah yang sama di daerah lain memiliki kemampuan seperti itu. Jadi, kami berharap agar SMKN 7 mendapat dukungan semua pihak sehingga keahlian mereka dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan,” kata anggota DPRD Kaltim, Entjik Widyani, di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (4/7).
Kemampuan itu, katanya, menambah bukti bahwa mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
“Namun, sebaiknya kita tidak merasa berpuas diri, semua pihak harus mendukung penuh agar kemampuan dan keterampilan SMKN 7 ini terus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga nanti bukan hanya sekadar memproduksi laptop, melainkan juga berbagai alat elektronik lainnya,” imbuh Entjik.
Pihak DPRD Kaltim berjanji akan mendukung penuh berbagai program untuk meningkatkan mutu pendidikan, termasuk kepada SMKN 7 tersebut.
“Secara umum, DPRD Kaltim sudah sepakat melaksanakan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni mengalokasikan 20 persen dari total APBD untuk sektor pendidikan,” kata dia.
DPRD Kaltim juga mendukung penuh program Kaltim yang melaksanakan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun atau di atas program nasional, yakni Wajar Sembilan Tahun.
Mengenai kemampuan SMKN 7 itu, ia menilai harus dimanfaatkan pihak-pihak terkait, misalnya program untuk memberikan laptop gratis yang tahap awal hanya kepada 20 persen dari total guru di Kaltim mencapai 58.829 orang.
Pengajuan dana untuk bantuan laptop cuma-cuma kepada sejumlah guru di Kaltim itu telah masuk dalam APBD Perubahan 2009 Kaltim.
“Kita baru mendapat informasi bahwa baru Pemkot Kota Samarinda yang telah mengajukan permintaan 2.000 laptop buatan SMKN 7 untuk mendukung program pembagian laptop gratis itu,” katanya.
Ia mengharapkan agar daerah lain juga mengikuti hal yang sama, tujuannya untuk memberdayakan kemampuan SMKN 7 dalam memproduksi laptop secara massal itu.
“Selain itu, harga alat elektronik produksi SMKN 7 ini jelas lebih murah, tetapi kualitas cukup bagus sehingga bisa menekan dana APBD dalam menjalankan program pembagian laptop gratis ini,” katanya.
Hanya beberapa jam
Kepala SMKN 7 Samarinda Edih Rahmanuddin mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapat kewenangan untuk memproduksi laptop secara massal.
SMKN 7 memiliki tiga jurusan kompetensi, yakni multimedia, rekayasa peranti lunak, serta teknik komputer dan jaringan.
Jumlah semua siswa SMK saat ini ada 803 anak, 45 persen di antaranya sanggup merakit laptop.
“Jadi, atas kemampuan para siswa itu, maka kami tidak khawatir apabila ada permintaan secara massal karena satu siswa mampu merakit laptop hanya beberapa jam,” ujar Edih ( SURYA Online )
BSE Kurang Berpengaruh
Jakarta – Buku sekolah elektronik yang disediakan Depdiknas masih kurang berpengaruh. Menjelang tahun ajaran baru, siswa tetap harus membeli buku cetak pelajaran sekolah yang harganya cukup mahal.
Di sejumlah sekolah swasta, biaya pembelian buku pelajaran tersebut satu paket dengan biaya pendaftaran untuk siswa baru. Adapun untuk siswa yang naik kelas II dan III SMP ataupun SMA, pembelian buku pelajaran tersebut tidak termasuk biaya daftar ulang.
Besarnya biaya pembelian buku tersebut bervariasi, sekitar Rp 450.000-Rp 1,2 juta untuk 14-18 buku pelajaran serta lembar kerja siswa. Buku-buku yang harus dibeli tersebut umumnya tidak dijual di toko buku sehingga orangtua siswa terpaksa membeli di sekolah.
”Buku yang harus dibeli itu pun tidak termasuk dalam daftar buku sekolah elektronik yang disediakan pemerintah,” kata orangtua siswa yang anaknya masuk sekolah swasta di Tangerang, Banten, Sabtu (4/7).
Ketua Pusat Buku Indonesia Firdaus Oemar mengatakan bahwa buku pelajaran semestinya tidak lagi menjadi persoalan. Pemerintah sudah menyediakan buku sekolah elektronik (BSE) yang tinggal diunduh di internet. Sejumlah BSE juga sudah dibuat versi cetaknya dengan harga eceran tertinggi sangat murah karena hanya sepertiga dari buku pelajaran cetak yang dibuat penerbit.
”Penyediaan BSE ini sangat membantu siswa, orangtua, dan sekolah,” ujarnya.
Bona Warsono, Kepala SMPN 104 Jakarta, mengatakan, dengan adanya bantuan operasional sekolah (BOS) untuk buku dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sekolah sudah bisa menyediakan buku-buku pelajaran di perpustakaan yang bisa dipinjam siswa selama setahun.
Hentikan penggandaan
Secara terpisah, para penerbit buku pelajaran mengatakan, mereka sudah mulai menghentikan penggandaan buku pelajaran. Hal itu, antara lain, dikarenakan pemerintah menghendaki sekolah menggunakan BSE yang telah dibeli hak ciptanya dan kini dicetak dengan harga eceran tertinggi tertentu.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid mengatakan, para penerbit buku pelajaran kini hanya berusaha menghabiskan stok buku yang telah mereka cetak dan tertumpuk di gudang melalui berbagai jalur distribusi, termasuk ke toko buku, pada tahun ajaran ini.
Buku-buku tersebut sudah lulus penilaian Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan berlaku selama lima tahun. Belakangan, pemerintah mengamanatkan sekolah untuk menggunakan buku yang telah dibeli dihak ciptanya.
”Kebijakan pemerintah yang terus berubah membingungkan dan merugikan para penerbit yang sudah telanjur mencetak buku tersebut dengan proyeksi bertahan lima tahun,” tuturnya menjelaskan.
Dia mengatakan, pihaknya sudah dua kali mengajukan surat ke Menteri Pendidikan Nasional mengenai persoalan buku pelajaran tersebut, tetapi belum ada tanggapan. Dia melihat pemerintah tidak adil karena buku tersebut sudah lulus penilaian dan berlaku untuk lima tahun, tetapi tidak bisa dijual. Dari total sekitar 920 anggota Ikapi, sekitar 20 persennya menerbitkan buku pelajaran.
Setia mengatakan, apabila pemerintah ingin menjamin ketersediaan buku pelajaran, sebaiknya memang memberikan subsidi penuh untuk pengadaan buku pelajaran di sekolah sehingga masyarakat benar-benar tak terbebani biaya buku. (KOMPAS)
Mereka Bermimpi Bisa Sekolah seperti Anak Malaysia
Kadang kala saya merenungkan, kapankah saya bisa bersekolah seperti anak Kerajaan Malaysia?
Itulah kalimat Seliana binti Mustafa (13) dalam karangannya berjudul ”Pemimpinku, Teladanku” pada majalah dinding pusat kegiatan belajar masyarakat di kompleks permukiman pegawai perusahaan perkebunan kelapa sawit Felda Plantations Sendirian Berhad (Sdn Bhd) di Lahad Datu, Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur.
Karangan anak Mustafa Yahya, tenaga kerja Indonesia (TKI) di perusahaan tersebut, adalah potret sesungguhnya ribuan anak TKI yang kini masih belum bersekolah.
Seliana tergolong beruntung karena bersama 47 anak lainnya bisa bersekolah setahun belakangan ini. Mereka pada 1-3 Juli lalu menempuh ujian nasional paket A setara sekolah dasar yang digelar khusus Departemen Pendidikan Nasional. ”Saya senang ikut ujian itu. Sebab, saya bisa sekolah seperti anak-anak Malaysia,” katanya.
Gadis kelahiran Keningau, Sabah, tersebut pernah menikmati lima tahun pendidikan di sekolah kebangsaan Malaysia. Namun, kemudian terpaksa berhenti karena Kerajaan Malaysia tidak mengizinkan anak-anak TKI melanjutkan pendidikan ke kelas enam—kecuali ada warga negara Malaysia yang mau menjaminnya.
Seliana baru bisa kembali mengenyam sekolah setelah tersedia pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di Felda Plantations itu.
Di perkebunan sawit seluas 106.00 hektar tersebut, saat ini ada sekitar 6.000 anak TKI. Namun, yang bersekolah di PKBM nonformal yang didirikan Yayasan Peduli Pendidikan Anak Indonesia (YPPAI) sejak tahun 2008 itu baru 571 anak.
Ada enam lokasi PKBM yang menjadi ”sekolah” anak-anak TKI tersebut. Gedung tempat belajarnya disediakan Felda Plantation.
Untuk menanamkan rasa kebangsaan, anak-anak itu diwajibkan mengumandangkan lagu ”Indonesia Raya” di halaman sekolah sebelum masuk kelas. Upacara bendera tidak setiap pekan diselenggarakan seperti di kebanyakan sekolah, tetapi hanya tiga bulan.
Mata pelajaran
Di negeri jiran itu, mereka terlihat cukup menarik karena dilengkapi seragam putih merah, pramuka, dan seragam yayasan. Mata pelajaran yang mereka dalami tak berbeda jauh dengan apa yang didapat anak-anak Indonesia pada umumnya, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Setiap bulan mereka dipungut bayaran 15 ringgit Malaysia atau Rp 45.000 oleh YPPAI. ”Itu buat honor bulanan staf dan pengajar serta semua keperluan di sini,” kata Direktur Eksekutif YPPAI Muhammad Firdaus Abdullah memberi alasan.
Di Sabah (Malaysia Timur) itu, diperkirakan ada 30.000 anak TKI. Namun, yang mengenyam pendidikan cuma 9.000 orang. ”Itu pun yang efektif mendapat pendidikan 5.000 anak,” kata Kepala Subdirektorat Kemitraan Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional Nadjamuddin Ramly.
Sekitar 600 anak dilayani YPPAI, 400 anak ditangani Yayasan Pemberdayaan Masyarakat (YPM) Serat Bangsa, sedangkan 4.000 anak lainnya ditangani Humana Child Aid Society.
”Cuma anak-anak yang ditangani YPPAI dan YPM Serat Bangsa yang sekolah berkurikulum Indonesia. Yang ditangani Humana tidak demikian. Karena Humana adalah LSM (lembaga swadaya masyarakat) mancanegara dan mempekerjakan banyak guru Malaysia, anak-anak TKI yang belajar di sana mendapatkan pendidikan berkurikulum Malaysia,” kata Nadjamuddin. (KOMPAS)
-
Arsip
- Juli 2009 (33)
- Juni 2009 (158)
- Mei 2009 (69)
- April 2009 (46)
- Maret 2009 (76)
- Februari 2009 (28)
- Januari 2009 (55)
- Desember 2008 (22)
- Nopember 2008 (16)
- Oktober 2008 (16)
- September 2008 (14)
- Agustus 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS